Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

Monday, May 21, 2007

Hilang!!

Benar-benar seperti mengalami hangover setelah semalaman pesta (walaupun liquor yang dikonsumsi tidak berkadar alkohol yang sangat tinggi) ketika PDAphone kita hilang. Itu kata seorang temanku. Ia (taruhlah namanya Mila – bukan nama sebenarnya) yang seorang gadget mania, menyimpan semua data pentingnya dalam sebuah PDAphone. Mila tidak pernah mengetahui dimana tepatnya kehilangan sliding PDAphone dengan keyboard QWERTYnya, sampai ketika ia menyadari dalam waktu hampir 20 menit tidak ada sms atau panggilan telepon yang masuk. Bo, miss ring-ring gitu looohh.. Agak aneh aja kalau dunia tiba-tiba menjadi sepi. Begitulah, Mila melongok ke dalam tas bermerknya, dan PDAphonenya tidak ditemukan.

“Keselip kali, nek..” Kataku asal waktu itu.

“Please, deh, Andin.. Emang sekecil apa sampai bisa keselip. Ga mungkin banget deh. Gue ngerasa selalu ada kok! Bahkan ketika bos gue nelpon nanya kenapa makan siang belum kelar juga padahal sudah jam satu lewat sepuluh, loe juga denger kan?”

“Ya, gue ga terlalu memperhatiin dong.. HP loe kan ga cuma satu say.. Yakin tadi loe terima telepon dari PDA loe? Bukan dari yang lain?”

“Andini Satari! (Iya, dia emang suka asal nyebut namaku, apalagi kl lagi bete) Loe tuh perhatian dikit kek ke temen loe.. Temen yang selalu ada bersama dalam suka dan duka.. Temen yang seluruh rahasianya digantungkan kepada loe.. Ayo, ikut bantu cari!”

“Iye.., gue bantu.. Entah gue yang o’on apa pelet loe ke gue dah sedemikian parahnya. Jelas-jelas yang bergantung adalah loe kepada gue, eh.. gue diperdaya masih mau juga. Eh, eh,eh.. Iya, gue bantu.. Jangan marah-marah gitu dong!”

Pertama kami menyusuri toko donat tempat Mila menunggu ketika aku membeli selusin original glazed donuts. Kata mbak-mbaknya,”Waduh.., kami nggak lihat Kak.. Kalau staf kami yang menemukannya pasti kami simpan dan dikembalikan kalau ada yang klaim. Tapi entah kalau pengunjung yang menemukannya.”

Ok, gagal di toko donat. Kami kemudian pergi ke tempat butik murah-meriah yang nama tokonya mengambil nama sebuah warna. Di sana pun nasibnya sama. Kemudian kami pergi ke sebuah toko yang mengkhususkan menjual perlengkapan bayi. Di lantai itu ada beberapa toko dan kamipun sempat masuk ke semuanya. Bukan.., bukan karena kami berdua yang sudah menikah sedang mempersiapkan punya bayi, tapi karena ada rekan Mila yang melahirkan. Tapi semua jawabannya sama.”Tidak ada, Kak.. Kalau kami menemukannya tentu kami simpankan. Kalau tamu kami yang menemukannya, itu kami tidak tahu.” Semua sudah diprogram sama ternyata.

Akhirnya aku dan Mila berhenti di salah satu cafe yang cheese cakenya pernah menjadi nomor satu beberapa tahun yang lalu. Aku murni untuk menikmati dua potong cheese cake nya. Mila untuk menenangkan diri, kemudian meratap, menenangkan diri lagi dan seterusnya.

“Sudahlah Mil.. Sudah jam 3 ini.. Loe nggak balik kantor?”

“Loe sendiri nggak balik kantor, Ndin?”

“Susah bicara dengan orang yang kalut. Kan dah gue bilang kali kalau hari ini gue cuti ngurusin kuliah gue, makanya gue nyantai aja dari tadi.”

“Oh iya ya..”

Aku menyuap cheese cake ku lagi. Untung selain masalah keuangan, tidak ada yang dapat mencegahku dari menikmati berpotong-potong cheese cake. Badanku tidak mudah melar, alhamdulillah...

“Gimana ya, Ndi..?”

“Apanya..?”

”Ya handphone gue lah, Sinting!”

“Deuh.., nyolot.. Ya, gimana lagi, hilang bukannya?” Aku masih saja menggodanya.

“Iya, terus gimana?”

“Loe tuh kadang-kadang tololnya amit-amit ya.. Faktanya adalah loe tidak menemukan handphone loe. Ditelepon sudah tidak tersambung. Kita susuri kemana-mana tidak ketemu. Terus bagaimana lagi?”

Mila diam.

“Udah beli lagi aja.. Gaji lo kan dua digit. Hampir enam kali gaji gue. Lah, gue aja bisa beli handphone berkamera, bukan yang megapixel sih ehm, dan mesti nabung setengah tahun, ehm lagi. Jadi pasti buat loe pasti gampang banget. Handphone loe yang hilang harganya sepertiga gaji loe bukan? Beres banget kan.. Mana laki loe juga kaya raya. Nggak usah diambil hati. Ganti baru aja. Kalau loe bawel gara-gara ngerasa nggak mampu beli handphone yang sama, gue gantung juga deh. Nggak empati ma gue.. Yang harus berdarah-darah kalau mau beli sesuatu.”

“Halaaahh.., drama queen loe!! Jelek banget sih..”

“Ya, abis.. Loe aneh sih, Mil... Kadang mengapresiasi sesuatu tidak sesuai dengan nilai sesungguhnya..”

“Justru nilai yang sesungguhnya jauh lebih besar dari sekedar gaji gue, tau’?”

“Apa sih susahnya Mila..? Nomor loe bisa tetap nomor yang sama karena pasca bayar kan? Kerjaan kantor loe? Tinggal bilang ke bos loe yang baik hati itu juga sudah beres masalahnya. Phone book nya? Kan masih ada dua handphone loe yang lain. Bisa lah ngelengkapin dari situ. Trus loe kirim email ke kolega dan rekan-rekan loe untuk ngasih nomor mereka. Beres.. Iya kan?”

“Bukan itu, Ndi..”

“Trus..?”

”Handphone itu dibeliin kantor, Ndi..”

“Hah..?!? Pletak.. Loe bodoh amat sih.. Kalau gue bawa barang kantor hilang emang kasus jadinya. Nah, loe gitu loh.. Bukannya malah lebih gampang urusannya? Dari cerita-cerita loe kan bos loe baik banget. Laptop kemaren yang tipis n ringan banget dibeliin bos loe bukan sebagai kado nikah? Loe juga kemaren ditahan-tahan di kantor yang sekarang dengan iming-iming gaji naik bukan? Jadi masalah handphone enam juta aja beres kali..”

“Emang pasti dibeliin lagi sih.. Hitungannya juga gue kan pejabat kantor..”

“Nah, itu selesai deh.. Udah, berhenti menggerutu. Bete gue dengernya. Loe dapet fasilitas banyak banget dan hidup loe lebih enak dari gue, tapi masih ngerasa kurang puas dan rasa mau mati gara-gara kehilangan handphone. Gimana loe di tempat gue ya..“

Mila diam. Tidak menjadi tersadar sepertinya, tapi lebih takut ngeliat aku marah-marah. He3...

“Ndi..”

”Apa?” Uh.., rasanya ingin menggetok kepala cewek cantik ini.

Mila menunduk. Seperti mengheningkan cipta waktu zaman aku SD. Dalam banget tundukannya! Aku dulu begitu bukan karena menghayati lagu Syukur, tapi karena takut guru piket yang keliling-keliling menegur murid yang masih saja bercanda.

“Ada foto-foto gue dengan bos gue masalahnya..” ujarnya lirih.

Aku tidak perlu mendengar rincian foto seperti apa dan separah apa, tapi sepertinya aku sudah paham mengapa seorang Mila yang kukenal begitu paniknya PDAphone nya hilang. Ternyata data penting yang disimpan itu benar-benar penting sekali loh..

(semuanya fiksi. sekedar pemanasan karena aku berniat belajar menulis lagi. bukan, bukan kisah nyata diri sendiri atau teman.. tapi yang benar-benar mengeluarkan daya kreativitas.. secara aku suka hiperbola n daya kreativitas terlalu tinggi - thx utk my hubby yg berjuta kali menyadarkan ini, walau dia juga kadang nggak ngeh. hehehe.. jadi ceritanya mo coba belajar nulis fiksi abeeezzzzzz...... )

Monday, January 29, 2007

ayah anakku (fiction - july28th 2004)

Cerita berikut adalah kisah nyata. Mungkin sebagian ada yang berkata, ”Ah.. klise kamu!”, tapi bisa jadi ada yang menganggukkan kepala dan berkomentar lugu,”Dongengnya boleh juga”. Apapun itu, menurutku ini sungguhan terjadi. Menurut Aku.

Namaku Nadila Kumali. Tidak ada kisah istimewa sebagai latar belakang penamaan itu. Pokoknya yang kuketahui, papa-mama tiba-tiba terinspirasi (dan jelas bukan suatu wangsit) kemudian memberi nama anak perempuan pertamanya seperti demikian. Bukan Nadira Kumala atau Nadia Komara atau.. Ah, sudahlah.

Aku adalah seorang istri dari seseorang yang kunikahi 1,5 tahun yang lalu. Aku juga seorang perempuan berkarir. Tidak hanya bekerja, namun benar-benar pada jenjang pekerjaan yang menapak ke atas dengan kompensasi yang layak. Pernikahan aku dengan suamiku (namanya Fahri) aman dan tidak mengalami suatu gonjangan apapun yang berarti, walau belum ada keturunan seperti yang diinginkan papa-mamaku, ayah-bunda Fahri. Kami berdua masih sangat santai terhadap hal ini. Kami bercinta dengan hebat (selalu demikian), pada awal-awalnya hampir setiap saat, kemudian berkurang menjadi seminggu empat kali, seminggu tiga kali, seminggu dua kali, dan dua bulan terakhir, kami bercinta seminggu SATU kali. Tidak masalah bagiku. Bagi suamiku pun tidak.

Hanya ada sedikit perbedaan antara aku dan suamiku. Aku begitu bersemangat, sementara suamiku pemurung. Aku sangat mencintai hidup dengan penuh warna dan segala bentuk. Suamiku tidak. Bagi suamiku hidup cukup hanya hitam-putih dengan bentuk garis lurus, tanpa kurva, apalagi bentuk aneh-aneh (suamiku kesulitan menyebutkan bentuk geometris, kamus matematika suamiku sudah hilang). Suamiku memandang hidup 24 jam terlalu banyak dan berlebih. Tidak demikian dengan aku, yang hampir mengeluh setiap detiknya bahwa bahkan 27 jam pun masih sangat kurang. Saat itu aku merasa cemas dan hampa karena sedikit perbedaan itu ternyata sangat mengganggu. Apalagi masih sangat banyak jam-jam yang harus dihabiskan bersama suamiku.

Yang lainnya, suamiku dan aku baik-baik saja. Suamiku agak ideal. Setia. Mencintaiku. Menjagaku. Mengantar dan Menjemputku ketika bekerja. Memikirkan apakah aku puas ketika bercinta. Menjunjung kehormatan keluargaku. Semuanya baik-baik saja bahkan ketika tanggal 14 Oktober tahun lalu, aku bertemu dan jatuh cinta pada DIA, yang diperkenalkan oleh salah seorang rekanku. DIA. Nicko Pahlevi G. (G di belakang Pahlevi adalah nama keluarga, marga dari suatu suku, tidak perlulah disebutkan disini).

Nicko adalah seseorang yang begitu Aku. Terutama karena DIA begitu bersemangat. Terutama karena caranya memandang hidup sebagai sesuatu yang warna-warni dan terutama bahwa bahkan 27 jam sehari pun baginya masih sangat kurang (kalimatnya sama persis seperti ketika aku berkata!!). Lainnya biasa-biasa saja karena aku seperti mengenal diri yang kurasuki selama 27 tahun. Sangat biasa. Namun kesangat-biasaan ini lah yang membuat semuanya bergulir. Semua yang berjudul perselingkuhan.

Pertama hanya dari kalimat-kalimat mesra dan gambar-gambar keadaan diri yang tercurah melalui handphone kami. SMS yang tercatat sebagai SMS pertamanya terasa sangat Aku. Ekspresif. Nakal. “Dila, aku tau kmu dah nikah. Tapi aku tetep blh sms utk berkata aku rindu kmu kan? ;p”. Kemudian SMS-SMS dan MMS-MMS (lama-lama, jadi “emes-emes” deh) lainnya. “Dila dah makan? Aku gi lunch ma anak-anak niy”, SMSnya suatu kali yang kemudian disusul MMS bergambar nasi timbel yang dijual di ujung jalan dekat kantornya. Dan lain-lainnya. Dan lain-lainnya.

Aku pun membalasnya. Seperti bertemu teman lama yang akrab sekali. Kemudian dimulai pertemuan pertama setelah hubungan rahasia kami melalui HP. Waktu itu aku minta izin suamiku untuk pergi dengan DIA. Tidak ada pikiran negatif di kepala suamiku (Oh, betapa lugunya suamiku! Betapa berdosanya aku!). Aku dan DIA makan malam dan bersentuhan jari. Zziinngg.. Rasanya seperti menyentuh sesuatu yang telah lama kurindukan dan memberi energi bermiliar-miliar-miliar-miliar kalori hingga laksana aku mampu mengelilingi dunia tanpa henti. Begitulah rasanya sehingga membuatku selalu ingin menyentuh DIA, mengambil energi yang tampaknya memang hakku untuk memilikinya. Ternyata tidak hanya ‘begitu’ saja. Aku memelihara kalimat-kalimatnya, tatapan-tatapannya, sentuhan-sentuhannya, dalam seluruh diriku. Kemudian aku menginginkan pelukan-pelukannya dan ciuman-ciumannya menjadi nyata. Dan ketika aku mendapatkan yang kuinginkan, ternyata DIA menginginkan lebih. Laki-laki. Dimana-mana sama. Perempuan, setidaknya yang kukenal, tidak menuntut seks ketika mencintai. Tetapi laki-laki tidak. DIA tidak. DIA menginginkan seks. Sesuatu yang semula sangat kuhindari, karena menjaga keterikatan aku dengan suamiku, ternyata diinginkan oleh DIA.

Begitulah DIA ketika menjadi seseorang yang sangat kubenci, sekaligus kucintai. DIA tidak lagi seperti Aku, tapi juga sangat Aku. Dan hari-hari ku tidak lagi murung seperti yang sering kurasa ketika berdekatan dengan suamiku. Hari-hariku over semangat tapi juga penuh dendam. Dan aku pun tidak bisa melepaskannya. Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan. Empat bulan. Lima bulan. Dan setengah tahunlah sudah. Suamiku tidak pernah mengetahui dan menduganya. Waktu yang dimiliki suamiku sangat banyak dan begitu terlenanya suamiku akan itu sehingga tidak sempat mengecek HPku, atau menaruh curiga ketika aku makan, nonton, dan sesekali bermalam bersama teman-teman yang sesungguhnya bukan temanku. Karena mereka adalah teman DIA. Karena aku bersama DIA.

Dan akupun terlambat menstruasi. Kelaminku pun begitu perih. Kuduga TUHAN, ALLAH sang PENGUASA, meletakkah adzabnya sudah.
“Nicko, aku ‘telat’. Suamiku msh di Dps. Trainingnya kan 1 bln. Jd pasti ini pny kmu. Aku hrs gmn? Ituku jg perih. Aku takut.”
“Say, aku bsk brkt k Tj Balai, plg Senin. Kita bicarain Senin malam. Selasa kita k dktr ya. Btw, qo kmu jd kayak anak kecil? Bukannya sdh pengalaman? ;p ”
“Nicko, aku serius. Ini baru yang pertama. Kmu ada dmn? Aku telp ya?”
“Aku gi meeting, syg.. Ntr kutelp. Tenang ya say..”
Dan menghilang lah DIA. Hanya lima hari memang. Hanya sampai Rabu minggu depannya. Tidak menepati janjinya. Saat-saat itu bagiku sangat menekan. Aku, yang dijuluki Xena, yang tidak membiarkan apapun merusak ritme kerjaku, akhirnya malah menjadi orang paling tidak bertanggung jawab. Aku lebih membenci DIA, dan mencintai DIA lebih sedikit dari sebelumnya (maaf kepada Arundhati, kupinjam istilah ini).

Hari Rabu. 11:45 waktu HP-ku.
“Say.. aku br pulang neh. Apa kbr?”
Tidak kubalas. Tidak berharga untuk dibalas.
“Marah ya? Sori, chargerku ketinggalan jadi ga bisa ngabarin kmu, syg..”
Masih tidak berharga untuk dibalas.
“Kl aku nelp kmu, akan diangkat ga? Aku mo cerita nih. Kmrn aku ktm cw yang dijodohin ma keluargaku. Dia seiman & satu suku. Aku jd berpikir, wl aku sangat mencintaimu, kita ga punya masa depan, jadi knp ga aku terima saja cw ini. Dua tahun lagi aku 40. Smua dah pny kec istri dan anak2. Menurut kmu gmn?”
Bajingan. Kurang ajar. Ini baru perlu balasan. Bukan, pembalasan. Maka jariku bergerak sangat cepat.
“Nicko, kmrn2 aku stgh mati ketakutan & cemas. Aku butuh teman bicara. Aku mencari dokter yang tidak mengenal aku dan menuliskan Ny. Nicko P.G sebagai namaku. Kerjaanku terganggu semuanya. Dan kmu bertanya pendapatku ttg cw itu?!? Kmu TIDAK PUNYA nurani & otak. STUPID.”

Dan begitulah hubunganku dengan DIA berakhir pada masa itu. DIA masih berusaha menghubungiku dengan menelpon atau mengirimkan SMSnya. Tapi DIA sungguh-sungguh tidak berharga. Hanya laki-laki yang memasukkan ‘anu’nya yang besar ke dalam ‘itu’ku. Merasa sudah mampu mencinta hanya karena tidak melakukan hubungan seksual pada orang lain. Untung, aku tidak terkena sakit kelamin.

Kemudian begitu suamiku pulang dari Denpasar, kuceritakan bahwa aku berselingkuh. Tidak dengan detilnya. Tidak dengan pengakuan seluruhnya apa-apa yang kulakukan bersama DIA. Tidak juga dengan peristiwa SMS STUPID itu. Hanya kukatakan aku jatuh cinta pada orang lain. Aku minta diceraikan dan diceraikanlah aku dengan cara yang sangat terhormat hingga seringkali aku menangis mengingat suamiku yang bodoh, tapi ternyata tidak lebih bodoh dari DIA, namun sangat baik hati. Suamiku yang tidak terlalu mempermasalahkan ketika kami tidak kunjung punya anak. Kami berdua masih sangat santai terhadap hal ini (waktu itu). Dahulu kami bercinta dengan hebat (selalu demikian) pada awal-awalnya hampir setiap saat, kemudian berkurang menjadi seminggu empat kali, seminggu tiga kali, seminggu dua kali, dan dua bulan terakhir, kami bercinta seminggu SATU kali. Tidak masalah bagiku. Bagi suamiku pun tidak. Tidak saat sebelum bertemu dengan DIA.

Delapan bulan setelah peristiwa SMS STUPID, ada undangan di meja ruangan kantorku. Tertuju untuk “OUR LOVELY FRIEND: NADILA KUMALI”. Akan menikah Nicko Pahlevi G dengan Silvina Theresia P. Pemberkatan pernikahan tanggal 7 Desember.. dan seterusnya.. dan seterusnya.. Baik, kali ini hubunganku dengan DIA benar-benar akan kusudahi, setelah…

---

Perempuan itu sedang menandatangani kuintansi pembayaran kedua dari catering yang akan menyajikan makanan di pernikahannya ketika melihat amplop coklat yang terselip dalam tumpukan koran kemarin. Dibukanya geram, rasanya ini adalah jawaban atas ketakutan tidak jelas yang dialami tunangannya selama ini. Isinya selembar surat keterangan dokter. Pemeriksaan tanggal 27 April 2004. Pasien Ny. Nicko P.G. Hasil: Positif Hamil.

---

Laki-laki yang sedang main golf itu terhenyak tiba-tiba dan ia gagal mencapai PAR untuk hole 7 nya. Ia lupa mematikan handphone yang sialnya bergetar di saat yang tidak tepat. Entah kenapa ia tahu bahwa tidak boleh ada sedetikpun waktu digunakan untuk menunda dirinya dari membaca SMS yang baru saja masuk. Persetan dengan turnamen golf!
“Say, aku br saja mengirimkan hsl tes dokter waktu itu k Silvi. Mgk dia sdh terima. Kmu tau, bisa jadi hari kmu nikah dg hari ANAKKU lahir berbarengan ya? “
Dan, menjadi mengertilah laki-laki itu bagaimana bencinya perempuan yang mengirimnya SMS ketika dahulu hanya dipanggil “Say” dan bukan “Sayang” (seperti kamu ngomong ke sekretaris kamu saja, bela perempuan yang sangat Aku tapi tidak seperti Aku); pahamlah ia ketika perempuan, yang ternyata baru disadari lebih dicintainya dari apapun di dunia ini, merasa marah dan terluka ketika laki-laki itu tidak ada di sisinya. Perempuan itu mengandung anak dari laki-laki yang sedang bermain golf di hole ke 7. Nadila mengandung anak dari Nicko.

---

“Bahkan ular berbisa yang sekaratpun masih bisa membahayakanmu”, tulisku pada halaman pertama buku mengenai BAYI yang baru saja kubeli. Sayangnya, aku tidak sekarat, Nicko. Dan gigitanku, walau tidak terlalu dalam, namun cukup berbisa.

Kutambahkan pada bagian bawah halaman pertama buku,
“With love, Mom.”
Anakku akan mendapatkan hadiah pertamanya sebuah pelajaran, bahwa CINTA seringkali bersanding dengan PEMBALASAN.

--

Hehehe.. tamat deh.
July 28th 04, 1:07am

Friday, January 26, 2007

cerita seorang kawan (fiction - from my FS blog)

pd minggu ini, setelah maghrib berjama'ah di suatu tempat, seorang kawan mendatangi aku sambil berlinangan air mata. katanya, kenapa niat mencintai seseorang karena Allah SWT jalannya tidak selalu mulus? aku tidak mengerti, kataku. kenapa aku harus mengalami sakit yang sungguh dan hatiku sering menjadi begitu hitam karena tidak ikhlas kalau cintanya terbagi, kembali dia bertanya. aku lebih tidak mengerti, elakku; sambil sangat berharap pertanyaannya tidak akan berondong, segera berhenti dan menghindarkanku dari kewajiban membantu.

tp tidak..

kawanku itu terus bertanya. sementara berbagai pertanyaan dari diriku seperti mengapa dia tiba-tiba datang kepadaku dan bertanya dan berharap dan mendorong dan membuatku merasa perlu merenung, belum sempat balik kuberikan.

katanya: aku mencintainya. aku menginginkannya menjadi imamku. aku mengharapkan bacaan shalat dan qur'annya yang fasih memenuhi seluruh udara di sekitarku, di kamarku, di rumahku, di seluruh hidupku.

katanya: aku mencintainya. aku menginginkannya menjadi imamku. aku mengharapkan kami saling mengasihi dalam rahmat dan jalanNYA dengan anak-anak yang shaleh dan shalehah sepanjang masa hingga maut memisahkan.

katanya: aku mencintainya. aku menginginkannya menjadi imamku. aku mengharapkan dengan pelayanan dan pengabdianku terhadapnya, maka aku telah melayani dan mengabdi pada Allah SWT.

katanya: aku mencintainya. aku menginginkannya menjadi imamku. aku mengharapkan dapat menikmati surga akhirat karena aku telah memenuhi hidupku dg amar ma'ruf dan menghijab diriku dari kekufuran.

lantas kawanku berhenti. berhenti bertanya. berhenti menangis.

tidak membuatku lega karena sosoknya laksana mayat. kosong tanpa ruh. dingin membeku..

lantas ia berujar lirih.., "tapi dia ditakdirkan bukan milikku. kenapaaa..?"

...
...

sungguh, aku ikut menjadi "mayat". aku kosong karena pertanyaan yang sama justru malah membanjiri pikirku. aku dingin membeku karena aku merasa apa yang akan aku katakan berikutnya haruslah sesuatu yang benar bagi kawanku (juga terutama bagiku) karena kala itu terasa Allah SWT begitu dekat dengan kami. aku tidak mau sedikitpun ada cela yang menjadikan kata-kata dan doaku tidak lancar menembus ketujuh langit. aku ingin malaikat-malaikat senang mendengarnya. aku ingin Allah SWT yang mencintai umatnya tanpa batas, mengabulkannya.

kupeluk kawanku dengan sangat erat. (bismillahirrahmanirrahiim)

"bertanyalah kepada Allah SWT, kawan.. kalau kamu benar mencintaiNYA dan sungguh-sungguh berusaha mencintaiNYA dengan lebih dan lebih lagi.., insyaallah DIA tidak akan menutupi dan memberinya kamu ilmu agar memahami semuanya.. Allah SWT akan mencintaimu lebih dari batas otak manusia mampu mengetahuinya.."

--00--

selesai.

lagi belajar nulis kisah spiritual diri maupun orang lain.

051006 1253pm.

big thanx to "my friend" n to my best buddy: agus rhamdany.


Comment from Mr. Untung Wibie
From: Untung Wibie
To:
Andini Hapsari
Sent: Wednesday, October 08, 2006 11:57 PM
Subject: Re: di luar kerjaan: tlg bantuin yaa.. tq
Bagus!
Gibran Influenzed?
Gapapa nulis terus aja...terus, terus dan terus semangat, ikhlas, ridho dan dengan penuh sukacita!
Kenapa banyak orang bilang, seniman (pelukis, penulis, pemusik, pematung & penyair) itu sama dengan wali atau...mungkin seperti iblis??
Karena mereka melakukannya seperti ibadah! Atau dengan penuh amarah! Yang dilakukan secara rutin sebagai suatu kebutuhan....Tinggal pilih aja kepada siapa karya kita akan kita tujukan? Allah SWT atau Iblis?
Kita beribadah kepada siapa? Untuk siapa?
Goodluck!
Mantan Seniman