Showing posts with label crisis. Show all posts
Showing posts with label crisis. Show all posts

Saturday, July 21, 2007

sweet escape

sudah beberapa bulan belakangan saya perhatikan, nng.. sebenarnya tidak khusus memperhatikan tapi ingatan saya kebetulan lagi berjalan baik jadi perihalnya masih terekam, seorang teman yang namanya hampir sama, selalu dalam status kondisi hati yang galau. saya penasaran tapi tak berani menyapa. baru beberapa hari yang lalu, saya tanya dia kenapa. jawabannya singkat. tidak kenapa-kenapa. tapi kemudian saya memancingnya dengan begini,
"mbak.., rasanya pengen kabur dan pindah kemana deh aku. berubah secara revolusioner.."
"kenapa din?"
"nggak tau.. capek aja.. pengen tiba-tiba menghilang dan muncul di negri orang.."
"iya din.. aku juga pengen.."
(hehehe, dapet kan? andini gitu loh.. berhasil aja ngorek-ngorek..)
"aku si pengennya nyobain kabur ke spore or malaysia mbak.."
"yah.., terlalu deket din.."
"kejauhan syusyaah mbak.. di jakarta aja aku masih suka kangenan dengan si papa-mama n adik-adik.. makanya niat kabur dari dulu nggak pernah kesampean ya gara-gara itu.."
"iya sih.., aku juga ngerasain kok.."
"selain juga masalah uangnya nggak akan cukup kalau kejauhan. hihihi.."
"hehehehe.. makanya perlu dipikirin matang-matang."
"he-eh. kalau mbak udah matang?"
"ya.., lebih matang dari kamu deh.."
"oh.., memang mau kemana mbak?"
"pengennya si europe or us.. ya, mentok-mentoknya jepang deh.."
"waaw.., hebat.. emang apa saja yang harus dipersiapkan mbak? kalau mau tinggal di sana dan belum punya kerja gimana?"
"mesti ada sponsornya din.. makanya bina relasi mulai dari sekarang.. aku aja carinya 6 bulan."
"tapi bukannya kudu hati-hati mbak..? aku pribadi si nggak bisa percaya orang mbak.."
"iya sih.. kalau bisa sih hati-hati. aku juga kenal relasi itu karena temannya saudara.."
"ohh.. mau cari kerja di sana juga mbak?"
"iya.."
"sama. nggg.., anak dibawa mbak?"
"pengennya sih.."
"aku juga pengen bawa adikku yang bungsu.."
begitulah. dan saya jadi berpikir tentang sebuah pelarian. pelarian yang manis.

setahun yang lalu, pada bulan-bulan yang hampir sama, saya pernah dikasih resep dokter suatu obat: XANAX. ini bukan promosi obat ya.. supaya saya dapat map atau pulpen atau kalender. saya sebut namanya biar kamu bisa cari di google itu obat untuk apa. jadi begitulah. setelah menebus di apotek dan akan meminumnya, saya mencari sebenarnya saya sakit apa. obat-obatan yang diberikan dokter rumah sakit sebelah kantor tidak hanya satu. banyak.. tapi semuanya saya kenali sebagai obat maag dan vitamin. Xanax? saya pernah mendengarnya tapi tidak tahu berkhasiat apa.

akhirnya saya temukan bahwa Xanax adalah obat penenang. itu sederhananya. stephen king pernah menyalahgunakan obat ini (pantas saya pernah mendengarnya). gejala yang ingin dieliminasi oleh keberadaan obat ini di tubuh kita adalah gangguan kecemasan, depresi dan panic disorder. woow.., saya agak kaget. selama ini saya masih (agak) akurat dalam mengukur gejala-gejala psikis saya: kekecewaan, kecemasan, stres, ketakutan dan gangguan semacam antis-mania (maaf, sekali lagi bukan iklan). semua masih dalam kategori normal menurut hitungan saya. artinya tidak menghambat saya secara signifikan dalam melakukan interaksi secara sosial, dalam berkarya, maupun dalam memberikan respon-respon terhadap suatu stimulus. tapi ketika di depan saya ternyata sudah ada 10 butir pil putih 0.25mg, alprazolam. wow.

itu tahun lalu. tahun ini saya pikir saya sudah normal. yah.., mungkin sedikit sakit jiwa kata teman saya savitri karena saya masih dikelilingi kondisi sama yang berpotensi menjadi pemicu suatu saat mengalami nervous break down. tapi lepas savitri bilang apa, saya pikir kesehatan mental saya sangat prima (oh.., maksudnya di luar bahwa saya juga seorang yang memiliki kecenderungan psikopatik). saya yakin itu.
tapi kini kenapa tiba-tiba saya tergoda oleh kata-kata mbak yang galau itu ya? pelarian. hmmmm..

Monday, April 23, 2007

..:: Dan bisa saja ia pergi... ::..

Dan bisa saja ia pergi..
Menaruh ikrarnya di dalam koper,
dijejalkan dalam lipatan-lipatan baju penuh ngengat ,
ikut apak dan jadi usang.
Aku ingin bau kamper, katanya.

Tapi tetap mengunci koper dengan kode.

Dan bisa saja ia pergi..

Karena wangiku sudah lenyap,
tinggal aroma kulit yang menua,
namun damai.
Kenapa aku merasa benci?

Dan bisa saja ia pergi..
Aku tidak pergi, katanya.
(Bagaimana kalau matamu bilang iya?)
Mungkin juga aku akan pergi, katanya.
(Jadi yang mana..?)
Aku pergi bukan karena kamu, katanya.
(Karena mereka?)
Bukan.., karena dia.., katanya.

Dan bisa saja ia pergi..
Karena bumi menolak ikrarnya,
memuntahkan sampai sisa-sisa lendir yang menyertai,
membersihkan diri dari kotor dan kesakitan.

Dan kalau memang ia pergi..
Tak mengapa aku menjadi orang aneh,
merunduk mencari harga diri yang cecer-cecer,
menggaruk kulit pohon, dinding bata, atau bentuk khayal tak berjasad, sampai kuku-kuku patah dan berbalik arah tumbuh,
mengiris hatiku dengan ujung kertas dan berbunyi "kriet-kriet" pedih,
karena memang ia pergi.

Maka kini tak perlu hidupku lagi..

---

Aku mencintaimu,
Aku memujamu.
Aku merindumu,
Aku membutuhkanmu.

Dan sekali lagi,
bisa saja ia pergi...

Thursday, February 15, 2007

Bukan Cinta

ada masanya ketika daun harus kering dan gugur. tak peduli betapapun terpesonanya dan berharap waktu berhenti untuk mengcapture indahnya, apa yang digariskan alam tetap terjadi.

ada cinta yang timbul karena kebenaran.
masa berganti dan kemudian dipertanyakan. masa berganti dan akhirnya menjadi suatu kesimpulan.
bahwa mungkin memang cinta kering dan gugur. harus dan tak terelak.
karena salahku, bukan salahmu.
memang pernah salahmu tapi tetap salahku.
salah demi salah karena keraguan.
salah demi salah karena godaan.
salah demi salah karena menganggap hitam harus hitam.

akhirnya kebenaran hanya semata permainan. mana yang pertama menjejakkan dan mana yang membuat pengakuan. terbiaskan karena ukuran indera saja. lupa TUHAN. dan akhirnya semua sia-sia. bukan sampah. bukan buangan. tapi tergeletak tak menarik untuk dimaknakan.

pernah teramalkan dari bibir seorang nujum bahwa cinta selalu menjadi musuhku. tidak percaya, tidak mengakui. tapi tiba-tiba teringat pada momen ini. bukan ramalan yang menjadi kenyataan tapi hukuman karena melupakan.

maafkan aku, wahai Allah Maha Pengasih, karena aku tidak mampu menjaga ikrar. karena aku mengesampingkan MU untuk menjalani takdirku.

aku di persimpangan. sendiri tapi tidak sendiri. berharap pada akhirnya berikhlas. berharap pada akhirnya benar-benar jalan Allah yang menjadi jalanku. tidak tertipu, tidak terlupa.