Dan bisa saja ia pergi..
Menaruh ikrarnya di dalam koper,
dijejalkan dalam lipatan-lipatan baju penuh ngengat ,
ikut apak dan jadi usang.
Aku ingin bau kamper, katanya.
Tapi tetap mengunci koper dengan kode.
Dan bisa saja ia pergi..
Karena wangiku sudah lenyap,
tinggal aroma kulit yang menua,
namun damai.
Kenapa aku merasa benci?
Dan bisa saja ia pergi..
Aku tidak pergi, katanya.
(Bagaimana kalau matamu bilang iya?)
Mungkin juga aku akan pergi, katanya.
(Jadi yang mana..?)
Aku pergi bukan karena kamu, katanya.
(Karena mereka?)
Bukan.., karena dia.., katanya.
Dan bisa saja ia pergi..
Karena bumi menolak ikrarnya,
memuntahkan sampai sisa-sisa lendir yang menyertai,
membersihkan diri dari kotor dan kesakitan.
Dan kalau memang ia pergi..
Tak mengapa aku menjadi orang aneh,
merunduk mencari harga diri yang cecer-cecer,
menggaruk kulit pohon, dinding bata, atau bentuk khayal tak berjasad, sampai kuku-kuku patah dan berbalik arah tumbuh,
mengiris hatiku dengan ujung kertas dan berbunyi "kriet-kriet" pedih,
karena memang ia pergi.
Maka kini tak perlu hidupku lagi..
---
Aku mencintaimu,
Aku memujamu.
Aku merindumu,
Aku membutuhkanmu.
Dan sekali lagi,
bisa saja ia pergi...
Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts
Monday, April 23, 2007
Wednesday, March 21, 2007
jatuh sejatuh-jatuhnya..
aku sakit. luka. tidak menyangka.
menjadi kosong kembali dan lemah daya
bintang yang hancur sebelum tua
memendarkan cahaya terakhir: redup dan sirna
aku mencinta dan bercita.
meletakkan asa padanya dan padaNYA
bisakah hanya diam atau menuturkan kata
yang santun dan penuh makna?
sudah biasa untuk mendapat cerca
karena sering aku salah dan alpa
menjadi nol dan berusaha menghapus dosa
aku tidak marah dan menerima
tapi..
darimu Sayang.., darimu Sayang..
untuk semuanya Sayang..
atau untuk ini saja Sayang..
tidak perlu menyanjungku Sayang..
walau aku sangat ingin Sayang..
ingin kamu bilang aku bisa Sayang..
menjadi bintang yang kamu inginkan Sayang..
atau menjadi apapun yang aku inginkan Sayang..
----------------------
menjadi kosong kembali dan lemah daya
bintang yang hancur sebelum tua
memendarkan cahaya terakhir: redup dan sirna
aku mencinta dan bercita.
meletakkan asa padanya dan padaNYA
bisakah hanya diam atau menuturkan kata
yang santun dan penuh makna?
sudah biasa untuk mendapat cerca
karena sering aku salah dan alpa
menjadi nol dan berusaha menghapus dosa
aku tidak marah dan menerima
tapi..
darimu Sayang.., darimu Sayang..
untuk semuanya Sayang..
atau untuk ini saja Sayang..
tidak perlu menyanjungku Sayang..
walau aku sangat ingin Sayang..
ingin kamu bilang aku bisa Sayang..
menjadi bintang yang kamu inginkan Sayang..
atau menjadi apapun yang aku inginkan Sayang..
----------------------
mungkin, hanya mungkin.. aku tidak pernah akan bisa menjadi siapa-siapa bukan karena salah siapa-siapa selain salahku. karena aku mengizinkan seluruh hidupku yang kini atau yang akan datang tidak sedikitpun aku miliki. bahkan untuk sekedar ide, akupun terbelenggu.
Monday, February 26, 2007
...
ketika aku teronggok dan menjadi busuk..
mungkin karena tragis: beritanya memenuhi headline koran,
atau karena sakit: menyisakan romantisme di klub-klub penggosip tetangga,
atau karena tua: membuat anak dan cucu masih tersenyum merasa aku tetap ada,
atau karena sekedar mati..
mati.
akankah kamu tetap membelaku?
melawan semua penguasa yang masih berbusa, kering kerontang pahalanya, dan juling-juling mencari sisa bayangku di seluruh hidupmu?
akankah kamu akan berkata lantang kepada mereka dan mereka:
yang membenciku dan mencintaiku, yang bisa juga mencintaimu dan membencimu,
atau sekaligus membenci dan mencintaiku, atau sekaligus mencinta dan membencimu,
bahwa kamu mencintaiku?
dengan kata yang sama yang kau ungkapkan dulu,
dengan sikap yang sama yang kau tampilkan dulu,
dengan doa yang sama yang kau harapkan dulu,
aku ingin tetap hidup di dalammu.
ketika aku teronggok dan menjadi busuk,
aku tahu sebenarnya hanya ada diam.
bukan karena kamu menciut menjadi katak,
atau lenyap melebur dengan udara.
mungkin kamu juga mati.
bersamaku dan ikut menyesap tanah.
tapi untukku itu tetap tidak cukup.
aku tetap ingin dibela...
(inspirasinya datang ketika menyetir perjalanan bdg-jkt, 24 feb 07. kata2 kunci aku tuliskan di hp sambil menahan kantuk dan berdoa tidak menyeruduk truk besar didepan.)
mungkin karena tragis: beritanya memenuhi headline koran,
atau karena sakit: menyisakan romantisme di klub-klub penggosip tetangga,
atau karena tua: membuat anak dan cucu masih tersenyum merasa aku tetap ada,
atau karena sekedar mati..
mati.
akankah kamu tetap membelaku?
melawan semua penguasa yang masih berbusa, kering kerontang pahalanya, dan juling-juling mencari sisa bayangku di seluruh hidupmu?
akankah kamu akan berkata lantang kepada mereka dan mereka:
yang membenciku dan mencintaiku, yang bisa juga mencintaimu dan membencimu,
atau sekaligus membenci dan mencintaiku, atau sekaligus mencinta dan membencimu,
bahwa kamu mencintaiku?
dengan kata yang sama yang kau ungkapkan dulu,
dengan sikap yang sama yang kau tampilkan dulu,
dengan doa yang sama yang kau harapkan dulu,
aku ingin tetap hidup di dalammu.
ketika aku teronggok dan menjadi busuk,
aku tahu sebenarnya hanya ada diam.
bukan karena kamu menciut menjadi katak,
atau lenyap melebur dengan udara.
mungkin kamu juga mati.
bersamaku dan ikut menyesap tanah.
tapi untukku itu tetap tidak cukup.
aku tetap ingin dibela...
(inspirasinya datang ketika menyetir perjalanan bdg-jkt, 24 feb 07. kata2 kunci aku tuliskan di hp sambil menahan kantuk dan berdoa tidak menyeruduk truk besar didepan.)
Tuesday, February 13, 2007
a (Love) Story
Seorang laki-laki yang jatuh cinta setiap kalinya setiap bertemu perempuan yang sama memberikan tulisannya kepadaku. Puisi? Entah tapi mungkin bukan, jawabnya. Aku hanya benar-benar mencintainya. Dan jatuh cinta padanya setiap kali mengingatnya. Dan aku menulis ini.
Kutanyakan apakah ia tidak bosan? Kuragukan apakah ia akan setia? Jawabnya, bacalah ini..
----
Kutanyakan apakah ia tidak bosan? Kuragukan apakah ia akan setia? Jawabnya, bacalah ini..
Ketika terang itu telah tercipta...
Gelap dan kepekatan tiada...
Tiba-tiba... Terang itu harus kupadamkan
Aku harus berjalan tanpa cahaya
dalam gelap yang sangat pekat
Tiada berujung...
Sungguh-sungguh menakutkan,
padahal selama ini aku alergi untuk kalimat "TAKUT"
sungguh-sungguh menyakitkan,
Padahal selama ini aku tidak mengenal kata "SAKIT"
Keberanian dan kebal akan rasa sakit ternyata
pudar..
luluh..
sirna..
hancur..
Hanya oleh cahaya yang membuat terang...
Sungguh tinggi cahaya itu artinya bagiku...
Sungguh besar cahaya itu artinya untukku...
Betapapun aku harus mengingkarinya,
ternyata tinggi dan besarnya tetap terlihat dan kasat mata.
Sempurna...
Dan tanpa celah...
----
(minus paragraf pertama, seluruh tulisan ini adalah kutipan curahan hati seseorang yg dengan berat hati nggak bisa aku tulis namanya secara terbuka disini. pertimbangan kenapa aku menuliskan di blogku adalah krn aku melihat prosesnya ketika dia jatuh cinta pada perempuan yang sama berkali-kalinya. karena aku merasakan bagaimana sakit dan hancurnya seorang manusia perkasa karena suatu hal (yang menurutku) adalah sekedar manipulasi perasaan: CINTA.)
Thursday, February 01, 2007
Dendam Perempuan
Laki-laki semua sama.
Dia dapatkan yang dia mau
semua perhatian dan cinta mutlak
Kemudian dia lupa
bahwa semuanya mesti imbang
Dia tidak pergi
tidak meninggalkan
Berdiri saja
Memandang dari sudut ruang
dengan angkuh
dengan iba-sinis-penuh kemenangan
dengan mengguratkan sobekan di nadi perempuan
Perempuan berdarah-darah sampai mati
tapi tidak menangis
Laki-laki tidak pergi-tidak meninggalkan-berdiri saja-memandang dari sudut ruang
dengan angkuh
dengan iba-sinis-penuh kemenangan
dengan khayalan penguasa.
Dia dapatkan yang dia mau
semua perhatian dan cinta mutlak
Kemudian dia lupa
bahwa semuanya mesti imbang
Dia tidak pergi
tidak meninggalkan
Berdiri saja
Memandang dari sudut ruang
dengan angkuh
dengan iba-sinis-penuh kemenangan
dengan mengguratkan sobekan di nadi perempuan
Perempuan berdarah-darah sampai mati
tapi tidak menangis
Laki-laki tidak pergi-tidak meninggalkan-berdiri saja-memandang dari sudut ruang
dengan angkuh
dengan iba-sinis-penuh kemenangan
dengan khayalan penguasa.
Subscribe to:
Posts (Atom)