Wednesday, May 02, 2007

sinetron mungkin memang realita!!

TV show yang paling jarang sy tonton adalah sinetron. lepas dari kontroversi bahwa sinetron:
a. tidak mendidik
b. juara hiperbola nomor satu
c. menjual mimpi
d. kedekatan dengan realita kadangkala dipertanyakan
(ayo dong.. tambah lagi.. mendadak sy lupa nih.. padahal di sekeliling sy banyak yang nyerocos seperti habis makan cabe segar 2 mangkok kalau lagi ngomongin pro kontra sinetron)
e. sarat pesan kapitalis
(aduh, sudah uzur sy.. ingatannya hanya bisa sampai nomor e);
kita harus sadar sinetron adalah kelas tingginya pertelevisian Indonesia kl dari konteks waktu tayang.

sy sendiri sama sekali TIDAK PERNAH (maaf, sy highlightnya dengan sangat keras) mengikuti sinetron Indonesia. setidaknya dalam 8 tahunan belakangan ini.
tapi kemudian ada yang mengubah sy (oia, ttg kata 'mengubah' dan 'merubah' sempat membingungkan krn sy lupa kata dasarnya. seingat sy ubah. dan di kamus tesaurus nya eko endarmoko yg baru sy beli hr minggu hanya ada kata ubah, tidak rubah. sampai di rumah sy akan coba lihat di kamus besar bahasa indonesianya balai pustaka yg umurnya sudah 15 tahun jadi maaf kl salah). bukan artinya lantas sy mengikuti dan menjadikan sinetron sebagai pelepas penat ketika sy menekan tombol power di televisi. tapi mengubah sedikit pendapat sy tentang kadar kesahihan skenario dalam sinetron.

ternyata dalam kehidupan yang dekat dengan sy, sinetron ternyata bulat-bulat mencuplik episode hidup kita. bukan hanya di sinetron seorang anak bisa melawan dan mencaci orang tua/ orang lebih tua dengan bebas dan menjadi makanan sehari-hari (untuk kriminalitas/kekerasan, sy anggap deviant behavior ya dan krn cukup minor jumlahnya, sehingga tidak membuat sy menggeneralisasi fakta itu).

sy sering sekali mendengar atau bahkan menyaksikan anak yang melawannya minta ampun kepada orang tua atau orang lebih tua yang juga kerabatnya. tapi untuk dua kejadian berikut ini yang membuat sy langsung teringat dan minta ampun pada mama sy.

pertama, ketika pada suatu jum'at yang mengharuskan sy bepergian siang hari sehingga orang laki-laki yang ada bersama sy menunaikan shalat jum'atnya di rest area tol cikampek kilometer 57. sy mengulang bacaan the interpreter of maladies dengan menekuk lutut dan minum tebs karena menunggu 45 menit dengan berdiam akan sia-sia. kemudian datanglah mereka: ayah dan anak laki-laki yang tidak sy kenal. nggak mau sy ceritakan dr awal ataupun detil tapi ada beberapa yang menarik dan menyayat hati. ayah berusaha mati2an dari cara praktis (hanya mengajaknya) smp dengan cara yang rumit (sedikit memasukkan unsur religi) namun bungkusannya tetap halus. kamu tahu reaksinya? si anak marahnya minta ampun. dan tidak habis pikir kenapa dia harus meninggalkan sebatang rokok dan teh botol sosronya untuk mendengarkan khatib berkhotbah dan akhirnya berjama'ah. terutama sekali adalah dia tidak habis pikir kenapa harus mengikuti saran ayahnya. kl dia ingin shalat, dia shalat. tapi bukan mengikuti saran ayahnya. itu katanya.

bahasa anak itu kasar. sy pun miris dan berulang kali berdoa supaya tidak ada anak sy, keturunan sy, ataupun saudara serta kerabat yg sy kenal berperilaku seperti itu. ketika sy beranikan diri melihat mata mereka (waktu itu posisi tidak menguntungkan: di sebelah kiri mereka), sy langsung minta ampun pada NYA. ternyata anak belasan tahun!!
tidak peduli apa latar belakang yang dialami anak sehingga ia merasa berhak berbuat demikian pada ayahnya (apakah krn bukan ayah kandung, apakah dia pernah kecanduan narkoba, apakah ayahnya pernah sgt menyakitinya), pendapat sy semestinya itu tidak perlu terjadi. saat itu sy terpikir, mungkin pernah ada sinetron yg seperti ini juga pada suatu waktu?

peristiwa kedua adalah ketika anak dan nenek saling menyebut "goblok" dan "tolol" dalam amarah mereka dengan entengnya. masalah sepele sekali. sy benar-benar terkejut waktu itu. seperti memindahkan adegan dalam sinetron (tinggal mencari suatu frame - benar-benar frame - ukuran 2mx1m untuk membuat sy merasa menonton sinetron). wah, dunia sudah berhenti berputar kah?

sy sering berbuat kasar kepada orang tua. bahkan kekasaran yang membuat sy pernah diusir dari rumah (dua kali). tapi tidak sekasar dua kejadian itu. pun setelahnya, baik sy dan orang tua sy merasa menyesal dan kami berbaikan sambil meneteskan air mata. kami mencintai satu sama lain dan menyakiti yang lain adalah sama saja dengan menyakiti diri sendiri. nyesss banget.. rasa seperti ditusuk belati es mungkin. setelah sy tinggal terpisah 3 jam perjalanan yang akhirnya menyadarkan sy dan membuat semakin menundukkan diri ketika berhadapan dengan mereka.
dan mungkin inipun seperti tayangan sinetron.

jadi sy sekarang bertanya. siapa yang mengedukasi siapa? siapa yang mempengaruhi siapa? dimana posisi kita? dimana posisi sinetron?
apapun itu jawabannya, kesimpulan sy satu.. sinetron mungkin memang realita!!

2 comments:

Unknown said...

tadinya gak mau komen ttg subjek ini, tapi urusan mengubah dan merubah bikin saya jadi pgn komen hehehe (walaupun sebenarnya enggak ada lagi yg perlu diluruskan karena mbak sudah tahu mana yg benar). salut buat usaha mbak buka2 kamus sampe thesaurus mas eko segala.

STAR said...

:: donkeekong
terima kasih.. gw nggak tau mo comment apa lagi soalnya..